Universitas Muhammadiyah Purworejo (UMPWR) - melalui Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa (PBSJ) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) menggelar Seminar Budaya bertema “Pengenalan Wayang Gaya Jogja dan Solo sebagai Media Edukasi Budaya bagi Generasi Muda” pada Rabu, 20 Maret 2026 di Ruang Seminar Kampus Timur UMPWR.
Kegiatan ini menghadirkan narasumber Ki Anom Sucondro, seorang dalang dan seniman campursari asal Yogyakarta yang dikenal aktif dalam pelestarian budaya Jawa. Seminar diikuti oleh mahasiswa semester 2, 4, dan 6 Program Studi PBSJ, delegasi himpunan mahasiswa dan organisasi otonom (Ortom), perwakilan SMP, SMA, SMK di Kabupaten Purworejo, serta masyarakat umum.
Seminar budaya ini diselenggarakan sebagai upaya memperkuat pemahaman generasi muda terhadap pentingnya budaya Jawa sebagai identitas bangsa di tengah derasnya arus globalisasi. Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan meningkatkan motivasi mahasiswa PBSJ untuk aktif berpartisipasi dalam kegiatan kebudayaan sebagai ruang pengembangan ide kreatif dan inovatif di bidang bahasa, sastra, dan budaya Jawa.
Melalui seminar tersebut, PBSJ FKIP UMPWR juga mendorong lahirnya gagasan-gagasan kreatif mahasiswa yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi pelestarian dan pengembangan budaya Jawa berbasis kearifan lokal. Tidak hanya itu, kegiatan ini diharapkan dapat menumbuhkan rasa cinta terhadap budaya Jawa sehingga generasi muda mampu berperan aktif menjaga dan mengembangkan budaya secara berkelanjutan.

Kaprodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa, Dr. Aris Aryanto, dalam sambutannya menegaskan pentingnya pelestarian budaya di era globalisasi. Menurutnya, generasi muda memiliki peran strategis dalam menjaga keberlangsungan budaya Jawa agar tetap hidup dan relevan di tengah perkembangan zaman.
Dalam pemaparannya, Ki Anom Sucondro menjelaskan perbedaan wayang gagrak Yogyakarta dan Surakarta, mulai dari sejarah, sumber pakem, hingga karakteristik penyajiannya. Ia menyampaikan bahwa gagrak Yogyakarta bersumber dari Purwakarta dan Habiranda yang tidak terlepas dari Keraton Ngayogyakarta, sedangkan gagrak Surakarta bersumber dari Rajapurwa yang berkembang di lingkungan Keraton Surakarta.
Ki Anom Sucondro juga menegaskan bahwa keberagaman gagrak dalam budaya wayang merupakan kekayaan budaya yang harus dihargai bersama. “Semua budaya dan semua gagrak tidak ada yang salah,” ujarnya di hadapan peserta seminar.
Melalui kegiatan ini, UMPWR kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung pelestarian budaya daerah sekaligus membangun kesadaran generasi muda untuk terus mencintai dan mengembangkan warisan budaya bangsa.
Kontributor : Sarifatul Ulya / PBSJ
Editor : Akbar / KP
14 Januari 2020
13 Januari 2021
25 Februari 2021
27 September 2021