• Berita

Dosen PBSJ FKIP UMPWR Jadi Narasumber Balai Bahasa Jateng, Gaungkan Pelindungan Bahasa Daerah Lewat Macapat

  • Berita

Dosen PBSJ FKIP UMPWR Jadi Narasumber Balai Bahasa Jateng, Gaungkan Pelindungan Bahasa Daerah Lewat Macapat

blog-thumb

Dosen PBSJ FKIP UMPWR Jadi Narasumber Balai Bahasa Jateng, Gaungkan Pelindungan Bahasa Daerah Lewat Macapat

  • Sekretariat dan Protokoler UMPWR
  • 19 Mei 2026
  • Dibaca 310 Kali

Universitas Muhammadiyah Purworejo (UMPWR) - kembali menunjukkan kontribusinya dalam pelestarian budaya dan bahasa daerah melalui kiprah dosennya di tingkat provinsi. Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa (PBSJ) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UMPWR, Eko Santosa, M.Hum., menjadi narasumber dalam kegiatan Bimbingan Teknis Guru Utama Pelindungan Bahasa Daerah Jenjang SD yang diselenggarakan oleh Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah pada Senin, 18 Mei 2026, di Semarang.

Dalam kegiatan tersebut, Eko Santosa menyampaikan materi bertajuk “Ngarang Cakepan Tembang Macapat lan Pengenalan Laras Slendro-Pelog”. Bimbingan teknis ini diikuti oleh guru SD, kepala sekolah, pengawas sekolah, serta menghadirkan para praktisi, akademisi perguruan tinggi, seniman, sastrawan, dan budayawan dari berbagai daerah di Jawa Tengah. Peserta dibagi ke dalam tiga kelas dengan masing-masing kelas diikuti sekitar 30 peserta.

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya strategis pelindungan bahasa daerah, khususnya bahasa Jawa, agar tetap hidup dan diwariskan kepada generasi muda melalui pendidikan dasar. Berbagai divisi pembelajaran diselenggarakan dalam bimtek tersebut, meliputi macapat, pidato, penulisan aksara Jawa, geguritan, ndagel ijen, hingga dongeng. Setiap divisi menghadirkan tiga narasumber dengan pembagian materi berupa teori, metode pembelajaran, dan praktik langsung.

Pada sesi yang dibawakannya, Eko Santosa menjelaskan bahwa tembang macapat termasuk dalam kategori sekar alit yang memiliki aturan atau paugeran tertentu. Ia memaparkan unsur-unsur penting dalam macapat, seperti guru gatra, guru wilangan, dan guru lagu, sekaligus mengenalkan dasar-dasar laras slendro dan pelog sebagai bagian penting dalam seni tembang Jawa.

Menurutnya, pelestarian bahasa dan sastra daerah tidak cukup hanya melalui teori, tetapi juga harus dihidupkan melalui praktik budaya yang menyenangkan dan dekat dengan dunia pendidikan. Melalui kegiatan ini, para guru diharapkan mampu menjadi agen pelestari bahasa daerah di lingkungan sekolah masing-masing.

Keikutsertaan dosen UMPWR dalam kegiatan tingkat provinsi ini menjadi bukti nyata komitmen kampus dalam mendukung pengembangan budaya lokal, sekaligus memperkuat peran perguruan tinggi sebagai pusat pelestarian nilai-nilai kearifan lokal di tengah arus globalisasi. 

 

Kontributor : Eko Santosa, M.Hum

Editor : Akbar/KP