• Berita

Menimbang Ulang Peran Board of Peace, PK IMM AR Fachruddin UMPWR Gelar Diskusi Publik

  • Berita

Menimbang Ulang Peran Board of Peace, PK IMM AR Fachruddin UMPWR Gelar Diskusi Publik

blog-thumb

Menimbang Ulang Peran Board of Peace, PK IMM AR Fachruddin UMPWR Gelar Diskusi Publik

  • Sekretariat dan Protokoler UMPWR
  • 06 April 2026
  • Dibaca 319 Kali

Universitas Muhammadiyah Purworejo (UMPWR) -  melalui Pimpinan Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PK IMM) AR Fachruddin menyelenggarakan diskusi publik bertajuk “Menakar Urgensi Board of Peace: Antara Formalitas Institusi & Solusi Konflik Nyata”. Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Kerja Rencana Tindak Lanjut (RTL) yang bertujuan mengkaji secara kritis peran Board of Peace (BoP) sebagai institusi perdamaian global.

Diskusi dilaksanakan pada Minggu, 5 April 2026, di Ruang Seminar Kampus Timur UMPWR dan diikuti oleh kader RTL, pengurus komisariat, serta perwakilan organisasi mahasiswa internal dan eksternal kampus, termasuk HIMA, ORTOM, UKM, KOORKOM, dan PC IMM Purworejo.

Ketua panitia, IMMawati Seikha Najla, dalam laporannya menyampaikan apresiasi atas partisipasi peserta serta berharap forum ini dapat menjadi awal gerakan kolektif mahasiswa dalam mengawal isu perdamaian global secara berkelanjutan. Sambutan juga disampaikan oleh jajaran pimpinan komisariat serta Koordinator Komisariat IMM UMPWR, yang menekankan pentingnya peran mahasiswa sebagai agen perubahan dalam merespons dinamika global.

Kegiatan ini menghadirkan pemateri Riko Ardi Viantoro, S.Pd. Dalam pemaparannya, narasumber menjelaskan konsep dasar Board of Peace yang secara ideal berfungsi untuk mencegah konflik, menjamin keadilan, serta menjadi mediator netral dalam menjaga stabilitas global.

Namun demikian, realitas di lapangan menunjukkan adanya kesenjangan antara idealisme tersebut dengan praktik yang terjadi. Struktur kelembagaan yang dinilai belum seimbang serta dominasi kepentingan negara-negara besar menjadi faktor yang memengaruhi efektivitas BoP dalam menyelesaikan konflik, termasuk di kawasan Palestina.

Selain itu, pemateri juga mengulas dinamika konflik dari perspektif historis dan dekolonisasi, serta mengajak peserta untuk memahami kompleksitas persoalan secara lebih kritis. Berbagai pertanyaan reflektif turut diajukan, di antaranya terkait netralitas lembaga perdamaian global, efektivitas forum internasional, hingga peran strategis mahasiswa dan Indonesia dalam mendorong terciptanya perdamaian dunia.

Melalui kegiatan ini, diharapkan mahasiswa UMPWR tidak hanya memperoleh pemahaman akademik, tetapi juga mampu menumbuhkan kesadaran kritis serta komitmen nyata dalam mengawal isu-isu perdamaian global, menjunjung nilai keadilan, dan berkontribusi aktif dalam upaya kemanusiaan. (editor : Akb/KP).