• Berita

Dosen UMPWR Eko Santosa Jadi Juri Festival Tunas Bahasa Ibu Tingkat Provinsi Jawa Tengah 2026

  • Berita

Dosen UMPWR Eko Santosa Jadi Juri Festival Tunas Bahasa Ibu Tingkat Provinsi Jawa Tengah 2026

blog-thumb

Dosen UMPWR Eko Santosa Jadi Juri Festival Tunas Bahasa Ibu Tingkat Provinsi Jawa Tengah 2026

  • Medkom UMPWR
  • 12 Oktober 2026
  • Dibaca 46 Kali

Universitas Muhammadiyah Purworejo (UMPWR) – Komitmen dalam melestarikan bahasa dan budaya daerah terus mendapat dukungan dari berbagai kalangan, termasuk akademisi. Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa Universitas Muhammadiyah Purworejo (UMPWR), Eko Santosa, S.Pd., M.Hum., dipercaya menjadi salah satu juri dalam Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) Tingkat Provinsi Jawa Tengah Tahun 2026 untuk cabang lomba Nembang Macapat kategori Sekolah Dasar (SD).

Kegiatan yang berlangsung pada 9–11 Oktober 2026 ini menjadi ajang bagi para siswa untuk menunjukkan kemampuan sekaligus kecintaan mereka terhadap bahasa dan budaya Jawa. Pelaksanaan lomba dipusatkan di Universitas Ngudi Waluyo, bekerja sama dengan Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah. Sementara itu, pembukaan dan penutupan kegiatan dilaksanakan di Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah.

Festival dibuka pada Jumat (9/10/2026) oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed., didampingi Wakil Gubernur Jawa Tengah, H. Taj Yasin Maimoen, serta jajaran Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah. Sejumlah pejabat turut hadir dalam pembukaan tersebut, di antaranya Bupati Semarang, H. Ngesti Nugraha, S.H., M.H.; Rektor Universitas Ngudi Waluyo, Prof. Dr. Subyantoro, M.Hum.; Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Hafidz Muksin, S.Sos., M.Si.; Kepala BBPMP Provinsi Jawa Tengah, Dr. Nugraheni Triastuti, S.E., M.Si.; serta Kepala BBGTK Provinsi Jawa Tengah, Darmadi, S.Pd., M.Pd.

Dalam sambutannya, Abdul Mu’ti menegaskan bahwa FTBI memiliki peran penting dalam menjaga keberlangsungan bahasa daerah sekaligus menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap budaya bangsa. Menurutnya, bahasa daerah bukan sekadar alat komunikasi, melainkan juga sarana untuk mewariskan nilai-nilai luhur dan kearifan lokal kepada generasi penerus, terutama di tengah pesatnya perkembangan zaman dan arus informasi.

“Festival Tunas Bahasa Ibu merupakan kegiatan penting yang memiliki manfaat besar dalam upaya melestarikan bahasa daerah kepada generasi muda. Melalui kegiatan ini, diharapkan tumbuh rasa cinta dan kebanggaan generasi muda terhadap bahasa dan budaya bangsa,” ujar Abdul Mu’ti.

Senada dengan hal tersebut, Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Hafidz Muksin, menyampaikan bahwa pelestarian bahasa daerah perlu diwujudkan melalui langkah nyata agar bahasa tersebut tetap digunakan dan diwariskan dari generasi ke generasi.

“Melalui Festival Tunas Bahasa Ibu ini, mari kita jadikan bahasa daerah sebagai warisan yang terus hidup, diwariskan dengan bangga dari satu generasi kepada generasi berikutnya,” ungkap Hafidz.

Dukungan terhadap penyelenggaraan FTBI juga disampaikan oleh Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen. Ia mengapresiasi upaya pelindungan bahasa daerah dan menekankan pentingnya memberikan ruang bagi generasi muda untuk mengenal serta menggunakan bahasa daerah dengan cara yang dekat dengan kehidupan mereka.

Dalam kesempatan tersebut, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memberikan penghargaan kepada Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah atas komitmen dan kontribusinya dalam pelaksanaan program pelindungan bahasa daerah. Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah juga memberikan piagam penghargaan kepada 35 pemerintah kabupaten/kota di Jawa Tengah atas dukungan mereka terhadap program tersebut.

FTBI Tingkat Provinsi Jawa Tengah 2026 diikuti oleh 490 siswa SD dan SMP yang merupakan juara pertama dari tingkat kabupaten/kota. Para peserta didampingi oleh 70 guru dari 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah. Berbagai cabang lomba digelar dalam festival ini, mulai dari Nembang Macapat untuk kategori SD dan SMP, baca geguritan, menulis dan membaca aksara Jawa, ndagel ijen, menulis cerkak, mendongeng, hingga pidato bahasa Jawa.

Keterlibatan Eko Santosa sebagai juri dalam cabang Nembang Macapat menjadi bagian dari kontribusi akademisi UMPWR dalam mendukung pelestarian bahasa dan sastra Jawa. Melalui penilaian dalam kompetisi tersebut, diharapkan kemampuan siswa dalam mengenal, memahami, dan melestarikan seni tradisi Jawa terus berkembang.

Eko berharap penyelenggaraan FTBI yang dilaksanakan secara rutin dapat menjaga keberlangsungan bahasa daerah, khususnya bahasa Jawa, di tengah perubahan zaman. Menurutnya, kegiatan semacam ini penting untuk menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap bahasa ibu sekaligus memastikan warisan budaya tersebut tetap hidup dan terjaga.

“Dengan diselenggarakannya FTBI secara rutin dan konsisten, diharapkan pelestarian dan pelindungan bahasa daerah tetap terjaga,” ujar Eko Santosa.

Keikutsertaan dosen UMPWR dalam kegiatan tingkat provinsi ini sekaligus memperkuat peran perguruan tinggi dalam mendukung pelestarian bahasa, sastra, dan budaya daerah melalui keterlibatan langsung dalam kegiatan pendidikan dan kebudayaan. (akb/KP).