• Berita

Kajian Rutin UMPWR Ingatkan Bahaya Mujahir dan Pentingnya Ikhlas dalam Beramal

  • Berita

Kajian Rutin UMPWR Ingatkan Bahaya Mujahir dan Pentingnya Ikhlas dalam Beramal

blog-thumb

Kajian Rutin UMPWR Ingatkan Bahaya Mujahir dan Pentingnya Ikhlas dalam Beramal

  • Sekretariat dan Protokoler UMPWR
  • 07 Agustus 2026
  • Dibaca 203 Kali

Universitas Muhammadiyah Purworejo (UMPWR) kembali menyelenggarakan Kajian Al-Islam dan Kemuhammadiyahan dalam agenda rutin Jumat awal bulan, Jumat (7/8/2026), di Ruang Seminar Kampus Timur UMPWR. Kajian yang diikuti dosen dan tenaga kependidikan tersebut menghadirkan Ust. Fajar Rachmadhani, Lc., M.Hum., Ph.D., Anggota Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah, sebagai pemateri.

Dalam tausiyahnya, Ust. Fajar mengangkat dua tema penting yang sangat relevan dengan kehidupan saat ini, yakni bahaya mujahir (terang-terangan berbuat maksiat) dan pentingnya menjaga keikhlasan dalam beramal.

Beliau menjelaskan bahwa salah satu fenomena yang semakin sering dijumpai di era digital adalah kecenderungan sebagian orang yang justru merasa bangga memperlihatkan perbuatan maksiat. Tidak sedikit yang menjadikan dosa sebagai bahan candaan, konten media sosial, bahkan kebanggaan untuk mendapatkan perhatian atau pengakuan dari orang lain.

Padahal, Rasulullah SAW telah memberikan peringatan keras mengenai perilaku tersebut.

"Setiap umatku akan mendapatkan ampunan, kecuali orang-orang yang mujahir (terang-terangan berbuat maksiat). Di antara bentuk mujahir adalah seseorang melakukan suatu dosa pada malam hari yang telah Allah tutupi, kemudian pada pagi harinya ia berkata, 'Wahai Fulan, tadi malam aku melakukan ini dan itu,' padahal Allah telah menutupi dosanya, namun ia sendiri membuka kembali apa yang telah Allah tutupi." (HR. Bukhari No. 6069 dan Muslim No. 2990).

Menurut Ust. Fajar, hadis tersebut menjadi pengingat agar setiap muslim memiliki rasa malu ketika melakukan kesalahan. Jika terjatuh dalam dosa, sikap yang seharusnya dilakukan adalah segera bertaubat dan memperbaiki diri, bukan justru menceritakan atau memamerkannya kepada orang lain.

Selain mengingatkan tentang bahaya mujahir, beliau juga menekankan pentingnya menjaga keikhlasan dalam setiap amal. Amal saleh tidak selalu berbuah pujian. Bahkan, sering kali seseorang yang berusaha berbuat baik tetap mendapat cibiran, fitnah, atau penilaian negatif dari orang lain.

Beliau mengingatkan bahwa tidak ada manusia yang mampu menyenangkan semua orang. Rasulullah SAW sebagai manusia pilihan Allah, yang memiliki akhlak paling mulia, tetap menghadapi penolakan, hinaan, hingga permusuhan. Karena itu, seorang muslim tidak semestinya menggantungkan semangat beramal pada penilaian manusia.

"Kalau Rasulullah SAW saja masih memiliki orang-orang yang membenci dan memusuhinya, maka kita yang penuh kekurangan tentu tidak perlu heran apabila ada yang tidak menyukai kita. Yang terpenting adalah menjaga niat agar setiap amal benar-benar dilakukan karena Allah SWT," tuturnya.

Pesan tersebut sejalan dengan sabda Rasulullah SAW:

"Sesungguhnya setiap amal itu tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang diniatkannya."(HR. Bukhari No. 1 dan Muslim No. 1907).

Allah SWT juga berfirman:

"Padahal mereka tidaklah diperintah kecuali agar menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam menjalankan agama yang lurus." (QS. Al-Bayyinah: 5).

Melalui kajian rutin ini, UMPWR terus memperkuat pembinaan spiritual bagi sivitas akademika sebagai bagian dari implementasi nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan. Harapannya, seluruh warga kampus tidak hanya meningkatkan kualitas ibadah dan amal saleh, tetapi juga mampu menjaga keikhlasan, menjauhi perilaku mujahir, serta senantiasa menjadikan ridha Allah SWT sebagai tujuan utama dalam setiap aktivitas. (akb/KP).