Membangun Kemitraan Inti Plasma Agribisnis Kelinci
Ditulis oleh Didik Widiyantono   
Minggu, 15 Maret 2009 22:55
Latar Belakang
 
           Kemiskian menjadi permasalahan mendasar yang harus segera diselesaikan ketika kesejahteraan rakyat menjadi tujuan didirikannya suatu negara Tidak terkecuali Indonesia. Masyarakat miskin secara umum ditandai dengan ketidakberdayaan dalam hal: (1) memenuhi kebutuhan dasar yaitu sandang dan papan; (2) melakukan kegiatan usaha produktif; (3) menjangkau akses sumberdaya sosial dan ekonomi; (4) menentukan nasibnya sendiri, senantiasa mendapat perlakuan deskriminatif, mempunyai perasaan ketakutan dan kecurigaan, serta sikap apatis dan fatalistik; dan (5) membebaskan diri dari mental dan budaya miskin serta senantiasa mempunyai martabat dan harga diri yang rendah (Sumodiningrat, 2003). Oleh karena itu, upaya pemberdayaan masyarakat miskin perlu terus dilakukan secara berkesinambungan. Universitas Muhammadiyah Purworejo secara aktif telah melakukan upaya pemberdayaan masyarakat secara berkesinambungan sejak tahun 2007.
           Kebijakan Pemerintah tentang pemberdayaan masyarakat secara tegas tertuang di dalam Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) Tahun 1999 dan Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. GBHN Tahun 1999, khususnya di dalam "Arah Kebijakan Pembangunan Daerah", antara lain dinyatakan "mengembangkan otonomi daerah secara luas, nyata dan bertanggung jawab dalam rangka pemberdayaan masyarakat, lembaga ekonomi, lembaga politik, lembaga hukum, lembaga keagamaan, lembaga adat dan lembaga swadaya masyarakat, serta seluruh potensi masyarakat dalam wadah NKRI". Dalam undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah, antara lain ditegaskan bahwa "Hal-hal yang mendasar dalam undang-undang ini adalah mendorong untuk memberdayakan masyarakat, menumbuhkembangkan prakarsa dan kreativitas, serta meningkatkan peran serta masyarakat"
           Universitas Muhammadiyah Purworejo selama memfasilitasi program pemberdayaan masyarakat, berdasarkan pengalaman di lapangan dan silaturahim ke beberapa tempat, telah menyusun teknologi pertanian semi organik yang diberi istilah SOFT (Semi Organic Farming Technology). Teknologi yang dirangkai dalam SOFT sebenarnya sudah dipraktekkan oleh petani di Indonesia, hanya tidak terpadu. Salah satu contohnya adalah teknologi penggemukan sapi selama 3 bulan. Pakan ternak untuk keperluan tersebut belum banyak yang memanfaatkan fermentasi jerami. Di sisi lain belum banyak peternak yang memanfaatkan limbah padat untuk diolah menjadi pupuk organik atau digunakan sebagai media beternak cacing.
Adapun desain SOFT tersebut dapat dilihat di bawah ini.


           SOFT (Simple Organic Farming Technology) adalah teknologi pertanian semi organik menggunakan keluaran dari satu proses produksi menjadi masukan produksi yang lain dalam kesatuan pertanian terpadu (integrated farming) membentuk satu siklus sehingga memungkinkan petani memiliki lebih dari satu sumber pendapatan, dan waktu yang dimilikinya dapat dimanfaatkan secara efektif dan efisien  dalam rangka peningkatan kesejahteraan keluarganya.
           Universitas Muhammadiyah Purworejo sebagai perumus SOFT, tentu memiliki tanggung jawab moral untuk mencoba dan membuktikan bahwa desain teknologi tersebut dapat diimplementasikan, sebelum masyarakat mengadopsinya. Inti dari SOFT adalah mengurangi kebergantungan petani pada pupuk anorganik untuk beralih ke pupuk organik, dengan memanfaatkan limbah peternakan ataupun pertanian.
Tiga jenis ternak yang dapat dipakai untuk implementasi SOFT adalah sapi, kambing, atau kelinci. Mengingat ternak sapi dan kambing tergolong lebih mahal dan SOFT akan dipakai sebagai ujung tombak program pemberdayaan masyarakat petani, maka UMP memilih kelinci untuk memulai siklus SOFT tersebut. Kecepatan perkembang-biakan kelinci diharapkan pada satu waktu tertentu dapat dijadikan modal oleh petani untuk berkembang dan membeli kambing atau sapi.
 
Membangun Kemitraan Inti Plasma
 
           Universitas Muhammadiyah Purworejo telah mengadakan kemitraan pengembangan agribisnis kelinci dengan Pimpinan Cabang Muhammadiyah Gebang. Kemitraan tersebut ditempatkan di Pimpinan Ranting Muhammadiyah Seren. Kemitraan tersebut ternyata telah menumbuhkan minat beberapa mahasiswa untuk berperan aktif dalam agribisnis kelinci. Meresponss tentang kewirausahaan mahasiswa yang diwacanakan Dikti dan Kopertis, maka UMP telah mengembangkan agribisnis kelinci dalam konsep kemitraan inti-plasma. Agribisnis kelinci yang dikelola Pimpinan Ranting Muhammadiyah Seren sebagai inti dengan plasma di beberapa lokasi sebagai berikut.
  1. Desa Rimpak Kecamatan Sapuran Kabupaten Wonosobo yang dikelola oleh Sdr. Enan (mahasiswa Program Studi Pendidikan Matematika),
  2. Desa Loano Kecamatan Loano Kabupaten Purworejo yang dikelola oleh Sdr. Budi Arifin Giri (mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa),
  3. Desa Balorejo Kecamatan Bonorowo Kabupaten Kebumen yang dikelola oleh Sdr. Itmam Muchlas (mahasiswa Program Studi Agribisnis).
           Ketiga mahasiswa UMP tersebut adalah aktivis pemberdayaan masyarakat, yang telah berkiprah sejak UMP merespons kegiatan pemberdayaan masyarakat petani yang diprogramkan oleh MPM PP Muhammadiyah. Kegiatan kemitraan tersebut dituangkan dalam kontrak kemitraan yang berlangsung selama 2 (dua) tahun.
           Universitas Muhammadiyah Purworejo sebagai inisiator dan pendamping Pola Kemitraan Inti-Plasma berkewajiban memberikan bantuan teknis dan manajemen. Beberapa kewajiban yang disepakati oleh pengelola inti maupun plasma antara lain.
  1. Sanggup memelihara ternak yang diterima dengan baik,
  2. Mengikuti bimbingan teknis dan manajemen yang diberikan petugas,.
  3. Secara langsung atau tidak langsung ikut mempublikasikan keberadaan dan peran Universitas Muhammadiyah Purworejo dalam pemberdayaan masyarakat,
  4. Menyerahkan sekurang-kurangnya 8 ekor induk kelinci pada akhir tahun ke-2 kemitraan ini untuk dikembangkan di kampus UMP atau digulirkan ke masyarakat lainnya,
  5. Membentuk sekurang-kurangnya 2 (dua) plasma baru di wilayah kecamatan inti atau plasma yang bersangkutan.
Kemitraan pola inti-plasma ini dalam implementasinya dapat dikelompokkan menjadi 3 tahap, yaitu
  1. Tahap pengembangan populasi, baik di tingkat inti maupun plasma.
  2. Tahap perintisan jaringan pasar.
  3. Tahap pengembangan plasma.
           Secara periodik UMP dan pengelola inti - plasma berkoordinasi untuk membicarakan perkembangan dan permasalahan yang muncul di lapangan. Kemitraan inti – plasma agribisnis kelinci tidak hanya berfokus pada kegiatan ternak kelinci saja (on farm), tetapi juga mengacu pada desain pemberdayaan masyarakat yang dikembangkan oleh MPM PP Muhammadiyah. Skema pemberdayaan masyarakat yang dimaksud seperti terlihat di bawah ini.


Mengapa Agribisnis Kelinci ?
 
           Ternak kelinci dapat dijadikan alternatif sumber protein hewani yang bermutu tinggi, dagingnya berwarna putih dan mudah dicerna. Menurut Ensminger et al. (1990), daging kelinci berwarna putih, kandungan proteinnya tinggi (25 %),  rendah lemak (4%), dan kadar cholesterol daging juga rendah yaitu 1,39 g/kg (Rao et al.  dalam  Sartika , 1995) Menurut Farrel dan Raharjo (1984), kelinci menjadi ternak pilihan karena pakannya tidak bersaing dengan kebutuhan manusia, maupun ternak industri  yang intensif. Fatwa MUI menyatakan daging kelinci halal untuk dikonsumsi manusia.
           Kombinasi antara modal kecil, jenis pakan yang mudah dan perkembangbiakannya yang cepat, menjadikan budidaya kelinci masih sangat relevan dan cocok  sebagai alternatif usaha bagi petani miskin yang tidak memiliki lahan luas dan tidak mampu memelihara ternak besar. Di negara sedang berkembang, kelinci dapat diberi pakan hijauan yang dikombinasikan dengan limbah pertanian dan limbah hasil industri pertanian (Sitorus et al., 1982 dan Diwyanto et al., 1985).  Limbah industri pertanian seperti ampas tahu dan bekatul dapat digunakan sebagai pakan konsentrat untuk kelinci dan banyak terdapat di lingkungan masyarakat Indonesia.
           Kelinci adalah hewan ternak yang memiliki kemampuan besar dalam beranak. Setiap induk kelinci mampu melahirkan rata-rata 6-8 ekor, bahkan ada yang mampu melahirkan 10-12 ekor. Masa puber kelinci dimulai dari umur tiga bulan ke atas, namun induk kelinci baru menghasilkan sel telur yang baik untuk peranakan pada usia 5,5 bulan ke atas, sedangkan pejantan biasanya sudah mampu membuahi pada usia 4,5 bulan. Masa kehamilan induk kelinci adalah 7-30 hari sejak dikawinkan. Induk kelinci umumnya melahirkan pada usia kandungan 29 dan 30 hari. Tabel berikut ini menunjukkan perbandingan beberapa hewan ternak berkaitan dengan masa kehamilan dan jumlah anak yang dilahirkan.
Kehamilan dan Jumlah Anak yang Dilahirkan pada Beberapa Hewan Peliharaan

Hewan Ternak
Periode (hari)
Jumlah Anak (ekor)
Kelinci28 – 33 (30)
1 - 12 (6 - 8)
Sapi
274 – 291(280)1
Kuda
340
1
Babi
110 – 116(113)
8 - 12
Domba
140 – 160
1 - 2
Kambing
146 – 157 (150)2
Unta
410
1

           Induk kelinci dapat dikawinkan sebanyak 4-6 kali dalam setahun. Induk kelinci sejak berusia 6 bulan dapat dikawinkan sampai 20 kali sehingga umur ekonomis induk kelinci adalah 5 tahun. Cara mengawinkan yang baik pada pagi hari pukul 06.00 – 08.00. atau malam hari pukul 19.00 – 21.00. dengan memasukkan induk kelinci ke kandang pejantan.
           Kotoran padat (feaces) kelinci yang normal berwarna hitam, karena kandungan  natriumnya yang baik, kotoran kelinci memiliki kualitas yang lebih baik sebagai pupuk tanaman. Rata-rata per ekor kelinci mengeluarkan 180 butiran kotoran setiap hari. Kotoran kelinci lebih baik ditimbun terlebih dulu agar terjadi proses dekomposisi. Salah satu hasil penelitian tim Balitnak Ciawi, seperti dipublikasikan melalui situs resmi http://www.balitnak.litbang.deptan.go.id (2006), menunjukkan mutu pupuk feaces kelinci dengan penambahan probiotik lebih baik kandungan bahan organiknya dengan C/N ratio (11-12%) sedangkan tanpa probiotik C/N (10%). Penggunaan pupuk feaces kelinci dengan probiotik meningkatkan pertumbuhan tanaman dan produksi hijauan secara nyata lebih tinggi 58,4% dibandingkan dengan tanpa probiotik.
           Urin kelinci sudah dibuktikan oleh beberapa percobaan dan praktek, sebagai cairan yang lebih mampu memacu pertumbuhan dan perkembangan tanaman dibandingkan urin hewan ternak lain (Mshur Faiz, 2009: 232). Fermentasi urin kelinci dengan memberikan mikroorganisme pengurai selama 3-4 hari dapat menjadi pupuk organik yang lebih baik. Beberapa petani menggunakan fermentasi urin ini dengan dilarutkan dalam air, untuk tanaman muda perbandingan 1:25, sedangkan untuk tanaman tua dengan perbandingan 1:15. Manfaat lain dari urin sebagai pengganti pestisida kimia. Kelompok Tani Karya Mandiri Kayuaro, Kerinci, Jambi membuktikan urin kelinci yang disemprotkan ke tanaman ternyata mampu membasmi hama yang menyerang daun tanaman kentang. Urin kelinci di Amerika sudah menjadi pupuk tanaman yang diperjualbelikan secara eksklusif.