Cetak Biru Pemberdayaan Masyarakat Petani
Ditulis oleh Didik Widiyantono   
Minggu, 18 November 2007 12:55
           17 Nopember 2007 - UM Purworejo, sebagai tindak lanjut diskusi pemberdayaan masyarakat petani, menyelenggarakan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Jama’ah Tani. Kegiatan diklat diselenggarakan pada tanggal 17 Nopember 2007. Diklat diikuti oleh delegasi dari seluruh Pimpinan Cabang Muhammadiyah Kabupaten Purworejo, yang masing-masing mengirimkan 5 orang peserta. Materi Diklat diberikan langsung oleh Tim Pemberdayaan Majelis Pemberdayaan Masyarakat Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Beberapa materi yang disampaikan adalah 1) Cetak biru pemberdayaan masyarakat petani, 2) Organisasi dan kepemimpinan jama’ah tani, 3) Best practice budidaya padi, 4) Aktivitas pasca panen.

Cetak biru pemberdayaan masyarakat petani dapat dilihat pada skema di bawah ini.
 

           Upaya peningkatan kesejahteraan petani selama ini hanya berfokus pada aspek budidayanya saja (on farm). Berbeda dengan yang dilakukan oleh MPM PP Muhammadiyah, selain aspek budidaya juga dilakukan  penguatan kapasitas dalam bidang organisasi dan pemasaran. Hal tersebut dapat dimaklumi, karena Persyarikatan Muhammadiyah sebagai ormas Islam besar di Indonesia memiliki jaringan organisasi sampai ke tingkat desa, tentu akan semakin mudah melakukan transfer teknologi.
           MPM PP Muhammadiyah dalam upaya implemetasi cetak biru tersebut, selama ini hanya bekerja sama dalam lingkup organisasi persyarikatan Muhammadiyah dari Pusat sampai Cabang. Universitas Muhammadiyah Purworejo sebagai salah satu Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) telah berupaya berperan aktif dalam melakukan fasilitasi pemberdayaan masyarakat petani baik di dalam kampus maupun di lapangan. Pola kerja sama antara Universitas Muhammadiyah Purworejo dengan MPM PP Muhammadiyah tersebut dipandang oleh Ketua MPM PP Muhammadiyah sebagai pilot project untuk pengembangan kerja sama dengan AUM atau PTM yang lain.
           Peserta diklat mendapatkan beberapa wawasan baru pada best practice budidaya padi antara lain penggunaan bibit yang selama ini sebanyak 4-5 bibit disarankan hanya 1 bibit. Pengurangan penggunaan bibit dapat mengurangi biaya produksi. Selain aspek bibit, juga disarankan pengurangan penggunaan pupuk kimia antara lain Urea, yang cenderung jika berlebihan menyebabkan tanaman rebah. Pengurangan penggunaan pupuk kimia diimbangi dengan penggunaan pupuk organik.
           Materi yang disampaikan pada diklat tersebut telah diujicoba oleh Jama’ah tani Banjarnegara, hasilnya menunjukkan peningkatan produksi dan terjadi pengurangan biaya produksi. Kegiatan diklat ini ditindaklanjuti dengan diklat pembuatan pupuk organik kocor pada hari Ahad 18 Nopember 2007.