Peringati Nuzulul Qur'an, UM Purworejo Hadirkan Ustadz dari Purwokerto
Ditulis oleh Humas   
Sabtu, 25 Mei 2019 07:33
Dalam rangka memperingati Nuzulul Qur'an, pada tanggal 18 Ramadhan 1440 H atau bertepatan dengan tanggal 22 Mei 2019 M, Universitas Muhammadiyah (UM) Purworejo mengadakan pengajian di Masjid Kampus UM Purworejo. Pengajian dilaksanakan setelah salat Isya' berjamaah dan salat tarawih berjama'ah dengan imam H. Nasruddin, M.S.I. Dalam pengajian Nuzulul Qur'an kali ini, UM Purworejo mengundang pembicara dari Purwokerto, Ustadz Mintaraga Eman Surya, Lc., MA. (Dosen UM Purwokerto). Acara ini dihadiri oleh Rektor dan Wakil Rektor UM Purworejo, Ketua dan Sekretaris BPH UM Purworejo, Pimpinan Cabang Muhammadiyah Purworejo, Pimpinan Cabang 'Aisyiyah Purworejo, para Dosen dan Pegawai, Mahasiswa, Ortom Muhammadiyah, tamu undangan dan masyarakat umum sekitar yang menjadi jamaah rutin shalat tarawih di UM Purworejo.
 
Dalam ceramahnya, Ustadz Mintaraga Eman Surya, Lc., MA. menjelaskan tentang pentingnya memahami Al-Qur’an dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, muslim secara umum hingga sampai saat ini merasa cukup hanya dengan membaca Al-Qur’an dari sisi lafadznya saja. Ustadz Mintaraga menyebut hal tersebut sebagai peradaban terendah di dalam Al-Quran. “Kita hendaknya tidak hanya membaca Al-Quran dari sisi lafadznya saja, tetapi harus sampai pada tingkatan tadabbur supaya kita menjadi sadar dan paham”, jelasnya.  
 
Selain itu, Ustadz Mintaraga juga menyebutkan ciri-ciri orang yang meninggalkan Al-Quran menurut Rasulullah SAW dalam tafsir Ibnu Katsir yang terbagi menjadi 2 golongan. Pertama, mereka orang-orang musyrik, yang mana tidak menggubris/ tidak mau mendengarkannya. Kedua, berlaku sepanjang zaman bagi setiap orang yang tidak mau mempelajari Al-Quran dan menghafalnya, tidak mau memahaminya dan merenunginya, tidak mengimaninya, tidak mau mengamalkan isinya, tidak mau meninggalkan larangannya dan berpaling dari Al-Quran kepada yang lain baik itu syair-syair, obrolan yang tidak bermanfaat, lagu-lagu dan nyanyian, atau kepada konsep lain yang bertentangan dengan Al-Quran. 
 
Kemudian, Ustadz Mintaraga membandingkan dengan zaman ketika sahabat dahulu. Banyak umat muslim yang memahami agama dengan baik walaupun mereka buta huruf. Mereka belajar tidak memakai tulisan, tetapi dengan pendengaran. Meskipun demikian, apa yang mereka pelajari bisa masuk ke dalam hati dan pikiran mereka, sehingga banyak dari mereka yang menjadi hafidz karena benar-benar memahami isi dari Al-Quran. 
 
Ustadz Mintaraga juga menceritakan masa lalu dimana Islam pernah berjaya terinspirasi dari Al-Quran. Bahkan pernah membuat Islam kosmopolitan dan pernah mencerahkan Eropa kurang lebih 500 tahun disaat Eropa berada dalam the dark age / masa kegelapan. Pada masa itu, Galileo Galilei dan Copernicus dipancung karena dianggap bertentangan dengan doktrin gereja dimana gereja pada saat itu menguasai Eropa. Pada saat itu, gereja berpaham geosentris, yaitu bahwa dunia ini pusatnya tata surya adalah bumi. Sementara Copernicus berpendapat bahwa dunia ini heliosentris. Maka pada saat itu juga, Eropa berada dalam kegelapan. Lalu Islam masuk membawa pencerahan melalui dialektika yang dibangun dengan budaya Eropa sehingga melahirkan kemajuan luar biasa saat itu. Ditemukannya algoritma oleh seorang muslim Arab bernama Al-Khwarizmi merupakan salah satu bukti kemajuan Islam pada masa itu. 
 
“Ini yang kemudian menyadarkan kita, kenapa kita tidak bisa membangun peradaban di era seperti ini. Di zaman yang sudah modern ini. Zaman yang kemudian kita sebut dengan the age of abundant knowledge, masa dimana pengetahuan berlimpah ruah. Kenapa kita tidak mampu mengambil bagian dari pencerahan? Bukankah Islam itu Ad-din wal hadloroh? Islam itu agama dan peradaban” katanya.
 
Ustadz Mintaraga selanjutnya mengajak untuk bersama-sama merenungkan bagaimana Al-Quran menjadi sebuah peradaban, yaitu dengan menjadikan Al-Quran sebagai pedoman dalam kita menjalani kehidupan dan sebagai solusi persoalan kehidupan dunia, serta sebagai standar kita untuk menjalin kasih sayang keumatan.