Ratusan Jamaah Ikuti Tabligh Akbar Gerakan Cinta Subuh Berjamaah UM Purworejo
Ditulis oleh Humas   
Sabtu, 06 April 2019 17:19
 
Dalam rangka menyambut bulan Ramadhan 1440 H, Lembaga Pengkajian, Pendalaman, Pengamalan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (LP3AK) Universitas Muhammadiyah (UM) Purworejo menggelar Tabligh Akbar Gerakan Cinta Subuh Berjamaah di Masjid Kampus UM Purworejo. Agenda ini dilaksanakan pada hari Sabtu, 6 April 2019. Ratusan jamaah yang berasal dari Pimpinan Cabang Muhammadiyah dan `Aisyiyah, Pondok Pesantren Al-Chudlorie Purworejo, seluruh Ortom Muhammadiyah dan masyarakat umum se-Kabupaten Purworejo ikut menyemarakkan acara tersebut. Selain itu, acara tersebut juga dihadiri oleh Rektor, Wakil Rektor, Dosen dan Pegawai, serta Mahasiswa UM Purworejo. 
 
Adapun rangkaian  kegiatan tersebut diawali dengan shalat subuh berjamaah yang dilanjutkan dengan Tabligh Akbar yang diisi oleh Uztadz Nanung Danar Dono, S.Pt., M.P., Ph.D., pengurus bidang dakwah Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) yang juga salah satu dosen di Universitas Gajah Mada. Dalam tausiyahnya, beliau menyampaikan mengenai pentingnya kehalalan akan sesuatu khususnya dalam hal makanan. Selain mendapatkan dosa dari Alloh SWT, mengkonsumsi makanan yang hukumnya haram pun dapat mengganggu kesehatan tubuh. Itulah sebabnya mengapa beliau memiliki prinsip bahwa makanan haram tempatnya bukan berada di dalam perut manusia khususnya bagi seorang muslim.
 
Lebih lanjut Ustadz Nanung menyampaikan beberapa poin penting terkait dengan makanan yang kita konsumsi dan juga alat yang kita gunakan di kehidupan sehari hari. Diantaranya beliau menjelaskan tentang bagaimana cara membedakan daging sapi dan daging babi dari segi warna, lemak, tekstur dan aromanya sehingga kita dapat terlebih dahulu mengetahuinya sebelum membeli daging tersebut. Kemudian, beliau juga menjelaskan terkait daging yang halal untuk dimakan tetapi menjadikan daging tersebut haram untuk dikonsumsi karena sesuatu, contohnya seperti ayam tiren (mati kemaren) yang diperjual belikan kepada masyarakat. Beliau juga menjelaskan dibalik pembuatan sapi gelonggongan yang selama proses tersebut sapi diberi perlakuan yang sangat tidak manusiawi agar daging terlihat besar dan sehat sehingga laku di pasaran.
 
Terlepas dari masalah kehalalan pada produk pangan, beliau juga menjelaskan akan pentingnya alat yang digunakan ketika mengolah makanan seperti kuas yang tidak boleh terbuat dari bulu babi. Beliau menyarankan agar sebelum alat tersebut dipakai dan dicurigai terkena sesuatu yang najis, maka alangkah baiknya alat tersebut dicuci oleh tanah sebanyak 7 kali, kemudian alat baru boleh dipergunakan.
 
Dengan terselenggaranya acara tersebut, diharapkan menjadi momentum yang baik sebagai ajang silaturahmi antar warga persyarikatan serta memompa semangat beribadah, beramar ma`ruf nahi mungkar dan ber-fastabiqulkhairat.