Falsafah Iqro' dalam Pembelajaran Sains
Ditulis oleh Nur Ngazizah, M.Pd.Si.   
Jumat, 30 September 2011 06:27

 

Pendahuluan

      Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS. ‘Alaq: 1-5).
      Wahyu   pertama  itu  tidak  menjelaskan apa yang harus dibaca,karena Al-Quran menghendaki umatnya membaca  apa  saja  selama bacaan  tersebut  bismi  Rabbik,  dalam  arti bermanfaat untuk kemanusiaan.  Iqra'  berarti  bacalah,  telitilah,  dalamilah, ketahuilah ciri-ciri sesuatu; bacalah alam, tanda-tanda zaman,sejarah, maupun diri sendiri, yang tertulis maupun yang tidak. Alhasil,  objek  perintah  iqra'  mencakup segala sesuatu yang dapat dijangkaunya.
      Pengulangan perintah membaca dalam  wahyu  pertama  ini  bukan sekadar   menunjukkan   bahwa  kecakapan  membaca  tidak  akan diperoleh  kecuali   mengulang-ulang   bacaan   atau   membaca hendaknya  dilakukan sampai mencapai batas maksimal kemampuan. Tetapi hal  itu  untuk  mengisyaratkan  bahwa  mengulang-ulang bacaan bismi Rabbik (demi Allah] akan menghasilkan pengetahuan dan wawasan baru, walaupun yang  dibaca  masih  itu-itu  juga.Demikian pesan yang dikandung Iqra' wa rabbukal akram (Bacalah dan Tuhanmu Yang Maha Pemurah).
      Tentu  ada  tata  cara  dan  sarana yang harus digunakan untuk meraih pengetahuan. Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam  keadaan tidak mengetahui sesuatu pun. dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati agar kamu bersyukur (menggunakannya sesuai petunjuk Ilahi untuk memperoleh pengetahuan) (QS Al-Nahl [16]: 78). Ayat  ini  mengisyaratkan  penggunaan  empat   sarana   yaitu,pendengaran, mata (penglihatan) dan akal, serta hati.
     Trial   and  error  (coba-coba),  pengamatan,  percobaan,  dan tes-tes kemungkinan  (probability)  merupakan  cara-cara  yang digunakan ilmuwan untuk meraih pengetahuan. Hal itu disinggung juga oleh Al-Quran, seperti dalam ayat-ayat yang memerintahkan manusia   untuk   berpikir   tentang   alam   raya,  melakukan perjalanan, dan sebagainya, kendatipun hanya berkaitan  dengan upaya mengetahui alam materi.
      Dalam ayat yang lain, Allah SWT memuji kepada hambanya yang memikirkan penciptaan langit dan bumi. Bahkan banyak pula ayat-ayat al-Qur’an yang menyuruh manusia untuk meneliti dan memperhatikan alam semesta.
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan Ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, Maka peliharalah kami dari siksa neraka. (QS. Al-Imran: 190-191)
      Apakah mereka tidak memperhatikan bumi? Berapa banyak  Kami tumbuhkan di bumi itu aneka ragam tumbuhan yang baik? (QS Al-Syu'ara' [26]: 7). Apakah mereka tidak melakukan perjalanan di bumi ...(QS 12: 109; 22: 46; 35: 44; dan lain-lain).
Ayat-ayat di atas adalah sebuah support yang Allah berikan kepada hambaNya untuk terus menggali dan memperhatikan apa-apa yang ada di alam semesta ini.

 

Download Makalah Lengkap

Email Penulis : Alamat e-mail ini diproteksi dari spabot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya