Ruh Marketing
Ditulis oleh Dwi Irawati, SE, M.Si   
Jumat, 23 September 2011 20:30
      Absennya ruh dalam praktik marketing (pemasaran) telah membawa akibat tak enak bagi marketing secara luas. Menurut saya, masih seringnya masyarakat mengidentikkan marketing dengan janji-janji yang sering kali tidak sesuai dengan kenyataan adalah bukti absennya ruh dalam kegiatan pemasaran. Berikut ini beberapa kesalahpahaman mengenai marketing yang merupakan akibat tiadanya ruh dalam praktik pemasaran.  
  1. Masyarakat masih memiliki anggapan bahwa marketing adalah selling semata.
  2. Lebih buruk lagi, salesman telah diidentikkan dengan orang yang bicara manis, perayu ulung dengan janji-janji besar namun kebanyakan produk yang ditawarkannya tidak sesuai dengan apa yang dijanjikan.
      Menurut Hermawan Kartajaya, marketing mestinya menjadi rahmat bagi dunia agar masyarakat mendapatkan produk-produk terbaik dan dapat memilih di antaranya untuk meningkatkan kualitas hidup mereka (sangat jelas tujuan mulia yang ingin dicapai oleh marketing). Marketing perlu (sudah semestinya) disikapi sebagai sebuah gerakan hati yang peduli; kepedulian pada KEBAIKAN dan KEMANFAATAN sesama. Kesalahpahaman yang ada telah melahirkan kesimpulan bahwa marketing identik dengan mangumbar janji. Marketing sebenarnya adalah aktivitas yang TIDAK berorientasi jangka pendek untuk merebut market share secara membabi buta; marketing LEBIH DARI itu. Marketing berorientasi jangka panjang yaitu untuk merebut mind share bahkan lifetime heart share.
      Perubahan & perkembangan teknologi, gaya hidup, kebudayaan & ketatnya persaingan bisnis dalam masyarakat telah membawa marketing ke dalam praktik yang amat bervariasi, yang terlepas dari hakikatnya (berarti mengabsenkan ruh marketing-nya). Apakah ruh marketing itu? Ruh marketing adalah hal yang mampu mendorong & memunculkan kegiatan pemasaran sesuai dengan fungsinya yang hakiki. Oleh Hermawan Kartajaya, SQ adalah ruh marketing. Kehadiran SQ (yang melengkapi eksistensi IQ & EQ dalam praktik pemasaran) mampu mengembalikan marketing kepada fungsinya yang hakiki yang dijalankan dengan landasan moralitas yang kental. Di level spiritual, marketing dijalankan berdasarkan prinsip-prinsip kejujuran, empati, kepedulian & cinta sesama sebagai hal yang dominan. SQ melengkapi level IQ yang menuntut marketer dapat bersikap fungsional-teknikal menggunakan pendekatan pemasaran ilmiah (scientific marketing approach) dengan berbagai tools-nya seperti segmenting, targeting, positioning, branding, dsb. Di level IQ, marketer menjadi seperti “robot”, dengan mengandalkan kekuatan logika dan konsep-konsep keilmuan. SQ juga melengkapi EQ yang menuntut marketer mampu memahami emosi & perasaan pelanggan. Pelanggan dilihat sebagai manusia seutuhnya, lengkap dengan emosi & perasaannya. Di level EQ marketer menjadi “manusia” yang berperasaan & empatetik. Di level SQ, marketing telah disikapi sebagai “bisikan nurani” & “panggilan jiwa” (“calling”). Dengan SQ, marketing tidak akan menjadi kegiatan tipu muslihat guna mengejar keuntungan sepihak secara membabi buta. Dengan SQ memungkinkan berbagai pihak yang menjadi pelakunya mampu bertumbuh & mendayagunakan kemanfaatan. ©
 
 
Email Penulis: Alamat e-mail ini diproteksi dari spabot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya Alamat e-mail ini diproteksi dari spabot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya