Model Buku Ajar Bahasa Indonesia Berbasis Pendekatan Kuantum Sebagai Upaya Peningkatan Mutu Pembelajaran Bahasa Indonesia
Ditulis oleh Dr. Sukirno, M.Pd.   
Rabu, 18 Agustus 2010 09:23
Abstrak
 
         Latar belakang masalah penelitian ini adalah belum ada model buku ajar bahasa Indonesia berbasis pendekatan kuantum. Sesuai dengan masalah tersebut, tujuan penelitian ini adalah menghasilkan model buku ajar bahasa Indonesia berbasis pendekatan kuantum. Pendekatan ini mengacu pada teori quantum learning (dePorter dan Hernacki, 2003), accelerated learning (Rose dan Nicholl, 2003), dan learn anything quickly (Linksman, 2004). Hasil penelitian ini berbentuk barang cetakan dan elektronik. Model berbentuk barang cetakan berupa buku ajar bahasa Indonesia. Model berbentuk barang elektronik berupa vcd berisi visualisasi materi pelajaran yang terdapat dalam buku ajar bahasa Indonesia. Berdasarkan analisis data kualitatif, model buku ajar tersebut memiliki keefektifan pada bagian materi pokok, pengalaman belajar, indikator pencapaian, sistem penilaian, dan bagian sumber serta media yang digunakan. Jadi, model buku ajar tersebut berpengaruh terhadap peningkatan mutu pembelajaran bahasa Indonesia.
 
Kata Kunci: buku ajar, media, pendekatan kuantum.

A. Pendahuluan
 
         Salah satu upaya untuk meningkatkan mutu pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah adalah melaksanakan perbaikan proses pembelajaran bahasa Indonesia yang sesuai dengan  perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Untuk memenuhi hal tersebut, diperlukan adanya model buku ajar bahasa Indonesia yang dapat menciptakan sistem belajar cepat, menarik/menyenangkan, dan demokratis.  Depdiknas (2003:10) telah merumuskan prinsip dasar kegiatan belajar-mengajar yaitu mengembangkan keterampilan berpikir logis, kritis, kreatif, bersikap, dan bertanggung jawab pada kebiasaan dan perilaku sehari-hari melalui aktivitas pembelajaran secara aktif. Untuk memenuhi prinsip dasar tersebut, kegiatan belajar-mengajar bahasa Indonesia harus (1) berpusat kepada siswa, (2) mengembangkan keingintahuan dan imajinasi siswa, (3) memiliki semangat mandiri, bekerja sama dan berkompetisi, (4) menciptakan kondisi yang menyenangkan, (5) mengembangkan beragam kemampuan dan pengalaman belajar, dan (6) memahami karakteristik pembelajaran bahasa Indonesia. Prinsip tersebut mengarah pada terwujudnya pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah yang dilaksanakan secara alamiah. Sejalan dengan hal tersebut, pendekatan pembelajaran yang menempatkan guru sebagai sentral kegiatan belajar-mengajar sedikit demi sedikit mulai ditinggalkan.
         Yang menjadi masalah pokok penelitian ini adalah belum adanya model buku ajar bahasa Indonesia yang berbasis pendekatan kuantum. Model yang dimaksud yaitu model buku ajar dan media yang berisi visualisasi materi pada buku ajar. Berdasarkan masalah tersebut, tujuan penelitian ini adalah menghasilkan model buku ajar dan media yang berisi visualisasi materi pada buku ajar bahasa Indonesia.
         Sasaran tulisan ini utamanya ditujukan kepada para guru bahasa Indonesia, penulis buku ajar bahasa Indonesia, pimpinan dinas pendidikan, tim pengembang silabus, budaya-wan, penerbit, dan produser. Penulis berharap semoga tulisan ini menjadi bahan renungan dan masukan bagi peningkatan mutu pembelajaran bahasa Indonesia.

B. Pembelajaran Berbasis Pendekatan Kuantum
 
         Pendekatan kuantum diambil dari istilah quantum learning atau belajar dipercepat (dePorter dan Hernacki, 2003: 14), accelerated learning atau belajar cepat (Rose dan Nicholl, 2003:8), dan learn anything quickly atau cara belajar cepat (Linksman, 2004). Istilah lain yang erat dengan pendekatan kuantum adalah suggestology atau suggestopedia (dePorter dan Hernacki, 2003:14). Sugesti berarti memberikan kesan, bisikan, pendapat, anjuran, nasihat, atau saran yang dikemukakan untuk dipertimbangkan (Echols dan Shadily, 1992: 567). Selain itu, sugesti juga berarti dorongan atau pengaruh yang dapat menggerakkan hati orang (Depdikbud, 1996:969).
         Lozanov, seorang pendidik berkebangsaan Bulgaria telah mengadakan penelitian eksperimen dengan model belajar suggestology. Pada simpulannya dikatakan bahwa sugesti terbukti efektif di sekolah dan untuk semua tipe orang dari segala usia. Sugesti dapat dan pasti memengaruhi situasi dan hasil belajar. Jadi, pendekatan kuantum yang dimaksud di sini adalah proses mempercepat dan mengoptimalkan hasil belajar siswa dengan upaya yang normal dengan memanfaatkan gaya belajar sendiri dibarengi dengan pemberian kesan yang penuh kegembiraan.
         Dasar pengembangan model buku ajar bahasa Indonesia berbasis pendekatan kuantum adalah adanya pendapat Rose dan Nicholl (2003: 125) yang menjelaskan bahwa untuk memperoleh informasi secara cepat dapat melalui cara belajar visual, auditori, dan kinestetik. Selain itu, Linksman (2004: xii) mengatakan bahwa setiap manusia mempunyai kecepatan belajar dengan gaya belajar yang berbeda, seperti visual, auditori, taktile, dan kinestetis. Gaya visual mengandalkan penglihatan yang ditangkap mata, auditori mengandalkan pendengaran dan pembicaraan, taktile mengandalkan penyentuhan pada objek baik secara fisik maupun emosi dan penciuman, sedangkan kinestetik mengandalkan sisi motorik atau gerak.    dePorter, Reardon, dan Noruie (2002:9) memaparkan tiga hal pokok yang dapat dijadikan sebagai parameter model buku ajar bahasa Indonesia berbasis pendekatan kuantum, yaitu (1) konteks, (2) isi, dan (3) langkah-langkah pembelajaran. Ketiga ciri tersebut selanjutnya dijelaskan secara lebih detail sebagai berikut.
         Konteks ada tiga bentuk, yaitu (a) bahasa, (b) media, dan (c) lingkungan belajar. Bahasa yang dimaksudkan di sini adalah bahasa yang digunakan oleh guru diharapkan dapat mem-bangkitkan semangat belajar siswa terhadap aktivitas belajar bahasa Indonesia. dePorter dkk. (2002: 17) menjelaskan cara membuat suasana yang menggairahkan, yaitu (i) guru harus menggunakan bahasa yang mampu membangkitkan niat belajar, (ii) bahasa guru harus dapat menciptakan jalinan rasa simpati dan saling pengertian, (iii) bahasa guru dapat menciptakan suasana riang dan menakjubkan, (iv) bahasa guru dapat menciptakan rasa saling memiliki, dan (v) perilaku berbahasa guru dapat dijadikan sebagai teladan siswanya. Semua itu diwujudkan dengan penggunaan bahasa yang mudah dipahami, objektif, intelektual, akrab, menarik, penuh humor, dan banyak kata bersifat sugesti.
         Media yang digunakan dalam cara belajar pendekatan kuantum adalah media yang dapat membantu memperlancar proses belajar. Ada tiga media yang dapat digunakan pada cara belajar pendekatan kuantum, yaitu media pandang, media dengar, dan media pandang-dengar. Tiga media itu digunakan untuk membantu siswa yang memiliki gaya belajar berbeda-beda.
         Lingkungan belajar yang diciptakan melalui cara belajar itu adalah lingkungan belajar yang aman, nyaman, mendukung proses belajar, santai, dan menggembirakan. Untuk mewu-judkan lingkungan seperti itu ada dua lingkungan yang harus diciptakan, yaitu fisik dan sua-sana. Lingkungan fisik diciptakan dengan cara memanfaatkan aktivitas fisik untuk belajar dalam bentuk gerakan anggota badan, membuat perubahan tempat belajar yang sesuai, belajar dengan menggunakan berbagai metode, permainan, dan berlomba. Adapun lingkungan suasana adalah terciptanya suasana yang nyaman, cukup penerangan, tersedianya media belajar yang memadai yang di dalamnya ada unsur gambar yang bergerak, dialog, musik, peristiwa, dan enak dipandang.
         Isi pembelajaran bahasa Indonesia berbasis pendekatan kuantum adalah pembelajaran yang mengkaji isi atau materi pembelajaran sesuai dengan kompetensi dasar bahasa Indonesia. Parameter isi diwujudkan dalam silabus dan sistem penilaian. Silabus memuat standar kompetensi, kompetensi dasar, materi pokok, indikator pencapaian, teknik penilaian dan sumber belajar.
         Langkah-langkah pembelajaran bahasa Indonesia berbasis pendekatan kuantum menggunakan enam langkah pokok yang dikenal dengan istilah tandur, yaitu tumbuhkan, alami, namai, demonstrasikan, ulangi, dan rayakan (dePorter, Reardon, dan Nouire. 2002:88). Tumbuhkan adalah menumbuhkan pemahaman dan minat siswa terhadap materi ajar dengan cara menyugesti dan menjelaskan skemata materi ajar kepada siswa. Alami adalah siswa memilih materi maupun gaya belajar yang mereka sukai. Namai adalah mem-bicarakan hasil identifikasi unsur-unsur materi pembelajaran. Demonstrasikan adalah mewujudkan hasil belajar sebagai inti materi pembelajaran dalam bentuk keterampilan berbahasa. Ulangi adalah memperbaiki kembali hasil belajar siswa berdasarkan saran dari teman dan guru sehingga hasil belajarnya menjadi semakin sempurna. Rayakan adalah aktivitas siswa dan guru dalam menentukan penilaian hasil kerja siswa melalui ujian teori maupun praktik.
         Pembelajaran bahasa Indonesia menurut pendekatan modern adalah pembelajaran yang tidak hanya mementingkan hasil, tetapi juga proses (Nunan, 1991:86; Cleary dan Michael, 1994:346; Tompkins, 1994:7). Dengan pendekatan proses, siswa tidak hanya ber-gantung pada peran guru, tetapi lebih dari itu, siswa bertanggung jawab terhadap hasil belajar mereka. Dengan pendekatan proses, guru berperan menciptakan kelas dalam suasana yang aman dan nyaman. Suasana kelas yang dimaksud bukan hanya suasana fisik, melainkan juga suasana intelektual (Temple, Ruth, dan Nancy, 1988:215). Dalam suasana tersebut, siswa boleh berbuat salah tanpa merasa takut dan siswa merasa ditolong oleh guru untuk mencapai tujuan. Seperti yang dikatakan Tompkins (1990:8), ketidakberhasilan pengalaman belajar siswa sering disebagiankan oleh keyakinan guru bahwa siswa tidak mampu belajar dan tidak ada semangat guru membantu siswa dalam melaksanakan kegiatan belajar.
         Pandangan modern yang lain tentang pendekatan kuantum adalah bahwa belajar bahasa sebagai kegiatan sosial (Temple, dkk., 1988:211; Nunan, 1991:87; Cox and Zarrillo, 1993:211). Hal itu menunjukkan bahwa dalam proses belajar bahasa, siswa dapat bekerja sama dengan orang lain sehingga kegiatan belajar bahasa akan tampak lebih realistis. Hal senada juga dikatakan oleh Halliday (dalam Cox dan Zarrillo, 1993: 211) bahwa anak sebagai bagian dari komunitas sosial dan anak-anak membangun makna dalam konteks sosial. Pandangan tersebut diaplikasikan dalam proses belajar bahasa Indonesia terutama dalam kegiatan kerja kelompok.
 
C. Model Buku Ajar Bahasa Indonesia
 
         Model buku ajar bahasa Indonesia ada dua, yaitu buku ajar dan vcd yang berisi visualisasi materi pada buku ajar. Yang menjadi alasan penentuan buku ajar dan media vcd itu adalah: (a) kedua model tersebut selalu disiapkan oleh guru sebelum proses belajar-mengajar berlangsung, (b) kedua model tersebut sebagai pedoman kerja guru dalam pelaksanaan proses pembelajaran beserta penilaiannya, dan (c) kedua model tersebut saling berhubungan dan saling melengkapi.

1. Model Buku Ajar Bahasa Indonesia  Berbasis Pendekatan  Kuantum
         Secara teoretis, model buku ajar dikembangkan berdasarkan pendapat dePorter, Reardon, dan Nouire (2002:6—9) yang menjelaskan pembelajaran berbasis pendekatan kuantum melibatkan unsur konteks, isi, dan langkah-langkah pembelajarannya. Untuk mengaplikasikan konsep-konsep tersebut, buku ajar ini dikembangkan menjadi tiga kelompok, yaitu kelompok preliminari, kelompok utama, dan kelompok pelengkap.
 
a. Bagian Preliminari
         Bagian preliminari buku ajar pembelajaran bahasa Indonesia berbasis pendekatan kuantum ini terdiri atas kover, kata pengantar, dan daftar isi. Kover mencakup lima unsur, yaitu (a) ukuran dan kualitas kertas, (b) tulisan, (c) ilustrasi/gambar, (d) warna, dan (e) makna. Ukuran dan kualitas kertas serta penjilidan perlu mendapatkan perhatian. Beberapa tulisan yang tertuang dalam kover buku ajar setidaknya mencakup nama penulis, judul buku, nama lembaga penanggung jawab atau penerbit, tempat penanggung jawab/penerbit dan tahun terbit. Ilustrasi/gambar yang berwarna-warni dan bermakna memperjelas isi materi akan menambah semangat siswa membaca buku ajar tersebut.
         Kata pengantar setidaknya memuat pengantar yang melatarbelakangi buku ajar tersebut dibuat, menjelaskan isi buku ajar secara keseluruhan, sasaran buku ajar, ucapan terima kasih kepada semua pihak yang ikut membantu terwujudnya buku ajar itu, harapan penulis terhadap para pembacanya, ucapan syukur, dan tempat bulan serta tahun penulisan buku ajar.
         Daftar isi memuat nama-nama bagian isi buku ajar beserta nomor halamannya. Daftar isi buku ajar itu secara rinci memuat tiga bagian, yaitu bagian preliminari menggunakan angka Romawi kecil, bagian utama menggunakan angka Arab, dan bagi-an pelengkap menggunakan angka Arab.

b. Bagian Utama
         Bagian utama buku ajar pembelajaran bahasa Indonesia berbasis pendekatan kuantum setidaknya memuat beberapa kompetensi dasar yang sudah diperhitungkan memerlukan waktu minimalnya satu semester. Setiap kompetensi dasar dikembangkan menjadi judul pelajaran dan enam langkah pokok kuantum yang dituangkan dalam bagian kesatu, bagian kedua, bagian ketiga, bagian keempat, bagian kelima, dan bagian keenam sebagai pengembangan langkah tandur.
         Judul pembelajaran memuat judul dan isi pembelajaran sesuai kompetensi dasarnya. Di lembar judul terdapat gambar-gambar dan ilustrasi yang berhubungan dengan kompetensi dasar. Tujuan dibuat halaman tersebut untuk menyugesti siswa agar lebih tertarik membaca buku ajar itu. Di bawah judul pelajaran ada bagian isi pelajaran yang memuat (i) kompetensi dasar, (ii) indikator pencapaian, dan (iii) materi pokok.
         Bagian kesatu memaparkan aktivitas menumbuhkan pemahaman dan minat siswa ter-hadap skemata materi ajar. Pada tahap itu, siswa disugesti dengan penjelasan dan diskusi tentang skemata materi pelajaran seperti (1) pengertian, (2) manfaat, (3) tujuan, (4) ciri-ciri, dan (5) cara mengidentifikasi.
         Bagian kedua memaparkan aktivitas siswa mengamati dan mengidentifikasi ciri-ciri materi ajar melalui kegiatan membaca atau menyimak rekaman. Pada bagian itu siswa diberi kesempatan untuk memilih materi dan gaya belajar yang disukai. Untuk memenuhi hal itu, dalam buku ajar ada beberapa pilihan materi ajar dan media yang memadai. Langkah-langkah konkretnya antara lain (1) siswa yang gemar membaca dipersilakan membaca materi yang telah dipersiapkan, (2) siswa yang gemar menyimak dipersilakan menyimak rekaman materi yang telah di-vcd-kan, (3) siswa yang memiliki kebiasaan belajar dengan menyimak dan membaca, diberi kesempatan untuk memanfaatkan kedua sumber dan media tersebut, dan (4) sambil menyimak rekaman atau membaca, siswa mengidentifikasi unsur-unsur materi pelajaran.
         Bagian ketiga memaparkan aktivitas siswa dalam membicarakan atau mendiskusikan temuan hasil identifikasi materi pelajaran.
         Bagian keempat memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan tindakan seperti yang dirumuskan dalam kompetensi dasar. Pada tahap itu, siswa mendemonstrasikan materi pelajaran. Bentuknya bisa membacakan, menyimak, menceritakan, mendiskusikan, dan  menuliskan.
         Bagian kelima memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengulangi atau memperbaiki kembali hasil belajar berdasarkan saran dari anggota kelompok dan guru. Pada tahap ini, siswa memperbaiki kembali hasil kerja siswa berdasarkan masukan dari teman kelompok dan guru sehingga diperoleh hasil kerja yang maksimal.
         Bagian keenam siswa diberi kesempatan merayakan hasil kerjanya untuk memperoleh pengakuan dari pihak lain. Pada tahap itu, siswa merayakan hasil kerja dengan berbagai bentuk evaluasi, seperti ujian teori atau praktik/lomba, tes lisan atau tertulis, tugas individu atau kelompok. Dalam hal penilaian, siswa ikut dilibatkan. Tujuannya agar siswa dapat menilai secara jujur. Terakhir, siswa memperoleh pengakuan hasil kerja secara objektif.
 
c. Bagian Pelengkap
         Bagian pelengkap buku ajar setidaknya memuat dua hal pokok, yaitu (1) daftar pustaka dan (2) biodata penulis. Daftar pustaka memuat nama pengarang buku, tahun terbit, judul buku, kota penerbit, dan nama penerbit buku. Daftar pustaka juga memuat sumber lain seperti informasi yang diambil dari majalah, surat kabar, dan internet sebagai rujukan penyusunan buku ajar. Biodata penulis dicantumkan dalam buku ajar agar diketahui secara rinci identitas penulis buku ajar itu.

2. Media yang Digunakan
         Media yang digunakan dalam pembelajaran bahasa Indonesia banyak sekali. Namun, dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu (a) media pandang, (2) media dengar, dan (3) media pandang-dengar.
         Media pandang/visual yaitu alat bantu belajar yang digunakan dengan mengandalkan penglihatan. Contohnya: kartu huruf, kartu kata, kartu kalimat yang dibuat dari kertas atau sterofom, papan tulis, alat tulis, buku, majalah, koran, brosur, leaflet, gambar, foto, grafik, dan bagan. Selain itu, media berupa proyeksi visual diam seperti: Overhead Proyektor (OHP), film bingkai (slide). Media visual gerak seperti film bisu. Media wujud barang nyata, seperti: prasasti, model, spesimen (bagian dari kelompok). Media wujud lingkungan, seperti: laborat, perpustakaan, dan objek wisata.
         Media dengar/audio yaitu alat bantu yang digunakan untuk belajar melalui indera pendengaran, contohnya: siaran radio, kaset, cd, radio kaset, dan telepon.  Media audio lainnya yaitu alat-alat musik yang dibuat dari logam, kayu, kulit, bambu, alat musik yang merupakan kombinasi antara kayu, logam, dan senar, dan alat-alat musik yang dirancang dengan menggunakan elektronik.
         Media pandang-dengar/audio visual yaitu media yang digunakan sebagai alat bantu belajar melalui penglihatan dan pendengaran, contohnya: film gerak bersuara, video, vcd, televisi, belajar dengan alat komputer, dan internet. Media yang berupa manusia termasuk media pandang dengar. Contohnya guru, pustakawan, dan narasumber. Guru diharapkan dapat memilih dan menggunakan media pembelajaran yang tepat dan sesuai dengan tujuan pembelajaran untuk membantu kemudahan dan kemenarikan siswa dalam belajar bahasa Indonesia. Media yang dikembangkan pada penelitian ini adalah berupa vcd yang berisi materi pelajaran pada buku ajar.

D. Simpulan
 
         Secara teoretis, model buku ajar dikembangkan berdasarkan pendapat dePorter, Reardon, dan Nouire (2002:6—9) yang menjelaskan pembelajaran berbasis pendekatan kuantum melibatkan unsur konteks, isi, dan langkah-langkah pembelajarannya. Untuk mengaplikasikan konsep-konsep tersebut, buku ajar ini dikembangkan menjadi tiga kelompok, yaitu kelompok preliminari, kelompok utama, dan kelompok pelengkap.
         Kelompok utama buku ajar pembelajaran bahasa Indonesia berbasis pendekatan kuantum dikembangkan dengan enam bagian, yaitu bagian kesatu/ tumbuhkan, bagian kedua/alami, bagian ketiga/namai, bagian keempat/demonstradi, bagian kelima/ ulangi, dan bagian keenam/rayakan. Media yang dikembangkan adalah berupa vcd yang berisi visualisasi materi pelajaran pada buku ajar.
         Setelah diujicobakan di lapangan, terdapat lima keefektifan model buku ajar bahasa Indonesia berbasis pendekatan kuantum. Kelima aspek tersebut yaitu (i) materi pokok, (ii) pengalaman belajar, (iii) indikator pencapaian, (iv) sistem evaluasi, (v) sumber dan media yang digunakan. Jadi, model buku ajar tersebut berpengaruh terhadap peningkatan mutu pembelajaran bahasa Indonesia.

Daftar Rujukan

Cox, C. and Zarrillo, J. 1993. Teaching Reading with Children’s Literature. New York: Macmillan Publishing Company.
Depdikbud. 1996. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Edisi Kedua. Jakarta: Balai Pustaka.
Depdiknas. 2003. Kurikulum Berbasis Kompetensi Standar Kompetensi Mata Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia Sekolah Menengah Atas dan Madrasah Aliyah. Jakarta.
dePorter, B., Reardon, M., dan Nourie, S.S. 2002. Quantum Teaching. Terjemahan oleh Ari Nilandari. Bandung: Kaifa.
dePorter, B. dan Mike H. 2003. Quantum Learning. Terjemahan oleh Alwiyah Abdurrahman. Bandung: Kaifa.
Echals, J.M. dan Shadily, H. 1992. Kamus Indonesia- Inggris. Jakarta: PT Gramedia.
Linksman, R. 2004. How to Learn Anything Quickly. New York: Barnes & Noble Books.
Nunan, D. 1991. Language Teaching Methodology. Sydney: National Centre for English Language Teaching an Research.
Rose, C. dan Nicholl, M.J. 2003. Accelerated Learning For The 21st Century. Terjemahan oleh Dedy Ahimsa. Bandung: Nuansa.
Temple, C., Ruth, N, and Nancy, B. 1988. The Beginning of Writing. Boston: Allyn and Bacon, Inc.
Tompkins, G.E. dan Hoskisson, K. 1990. Language Arts Content and Teaching Strategies. New York: Macmillan Publishing Company.
Tompkins, G.E. 1994. Teaching Writing: Balancing Process and Product. New York: Macmillan College Publishing Company.